Pengalaman Berbahasa Jawa
Ini pengalaman saya selama saya mondok di pesantren di jawa. Karena di pondok rata-rata orang jawa, maka mau tidak mau saya harus belajar menggunakan bahasa jawa. Karena saya orang melayu yang belum pernah berbicara menggunakan bahasa jawa, terkadang ada beberapa kata yang saya ucapkan masih menggunakan bahasa melayu hingga saya sering dipanggil dengan orang Malaysia. Padahal tidak semua orang melayu itu adalah orang Malaysia.
Setelah sebulan saya belajar bahasa jawa, sedikit demu sedikit saya mulai berani berbicara dengan bahasa jawa walaupun masih saya campurkan dengan bahasa indonesia. Setelah saya terbiasa dengan logat dan cara pengucapannya, saya akhirnya bisa berbicara menggunakan bahasa jawa dengan kawan-kawan saya.
Suatu hari, saya dipanggil oleh guru saya untuk mengerjakan suatu tugas. Beliau berkata "Gek ndang kerjakno", kemudian saya menjawab "njeh mngko tak garap", tiba-tiba wajah guru saya berubah masam dan matanya melotot kepada saya. "Kenapa kamu ngomong gitu sama saya" kata guru saya, saya heran kenapa guru saya langsung marah padahal saya menjawab sesuai dengan perintahnya. Kemudian saya jawab "Lho bukannya jawaban saya betul", guru saya bertanya "sudah berapa bulan kamu belajar bahasa jawa ?", saya menjawab "baru setengah bulan". Kemudian guru saya menganggukkan kepalanya sambil berkata "pantaslah kamu jawabnya seperti itu", saya bertanya "ada apa guru, apakah bahasa saya tidak sopan", guru saya menjawab "tidak, bahasa kamu sudah sopan tapi bahasa jawa yang kamu gunakan salah"
Setelah kejadian tersebut, saya baru sadar ternyata bahasa jawa itu ada tiga tingkatan dan setiap tingkatan dibedakan menjadi beberapa kalangan. Tingkatan pertama disebut ngoko atau kasar dimana bahasa ini biasa digunakan untuk berbicara dengan kawan-kawan kita. Kedua kromo atau halus dimana bahasa ini kita gunakan untuk berbicara dengan senior kita seperti kakak kelas kita atau dengan orang yang baru kita kenal. Terakhir kromo inggil atau halus tinggi dimana bahasa ini digunakan ketika kita berbicara dengan orang yang sudah tua atau seorang bangsawan ataupun seorang kiai.
Contohnya, mangan dan dahar artinya makan tetapi mangan untuk tingkatan ngoko sedangkan dahar untuk tingkatan kromo inggil. Ada juga turu dan tilem artinya tidur tetapi turu untuk tingkatan ngoko sedangkan tilem untuk tingkatan kromo inggil
Intinya dalam menggunakan bahasa jawa kita harus menguasai tiga bahasa supaya kita tidak salah mengucapkan kata-kata tersebut kepada orang yang kita ajak berbicara. Jangan kita berbicara bahasa ngoko kepada orang tua karena walaupun artinya baik tetapi karena penggunaan bahasa tersebut membuat orang yang berbicara dengan orang tua tersebut menjadi tidak sopan. Bahkan dari segi gerak gerik tubuh pun harus sesuai dengan perkataan yang diucapkan oleh kita. Itulah bahasa jawa, bahasa yang menurut saya menjunjung tinggi nilai sopan santun baik kepada kawan maupun kepada orang yang lebih tua.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar